Liputan Khusus Berita

Pemkab Muratara Berhasil Sulap Lahan Tidur

MURATARA.B-Lipuse.com – Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara,Sumsel, melalui Dinas Pertanian dan Perikanan Muratara, berhasil menyulap lahan tidur seluas 3.000 Hektar menjadi lahan produktif.

Upaya optimalisasi pemanfaatan lahan terlantar terus dilakukan sejak tahun 2016 lalu, demikian disampaikan Kepala Bidang Dinas Pertanian dan Perikanan Muratara, Ade Meri, pada awak media beberapa waktu lalu.

“Untuk tahun 2020 sudah 700 hektar lahan yang dikembalikan fungsinya. Sebelumnya sudah sekitar 2.300 hektar lahan tidur telah dimanfaatkan,” jelas Ade

Lanjutnya, ada sekitar 7.000 hektar lahan potensial diwilayah Muratara yang belum digarap maksimal. Lahan tersebut ditinggal masyarakat karena dianggap tidak ekonomis. Pasalnya, mayoritas lahan pertanian di Muratara merupakan lahan marginal berupa lahan lebak, tergenang periodik akibat banjir saat musim penghujan dan kekurangan air saat kemarau.

“Mayoritas sawah tadah hujan, sehingga bisa panen satu kali dalam satu tahun akibat sering terkena bencana banjir dan kekeringan, makanya banyak lahan sawah di wilayah kita ditinggalkan masyarakat,” ungkapnya

Pemerintah daerah sudah berupaya untuk meningkatkan potensi lahan tidur tersebut. Dengan melakukan optimalisasi seperti, menggunakan sistem pompanisasi, membuat saluran irigasi, hingga pembagian bibit dan lainnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Muratara,
terus mendorong peningkatan produksi pertanian sehingga bisa panen dua kali dalam setahun. Bahkan saat ini sudah ada yang panen sampai tiga kali dalam setahun.

Namun rata rata banyak yang dua kali panen. Estimasi produksi sekitar lima ton perhektar dan pada 2020 ada sekitar 30.000 ton produksi padi diwilayah Muratara,” terang dia.

Meski masih ada sekitar 4000 hektar lahan potensi yang belum digarap, pihak dinas melakukan pembukaan lahan secara bertahap. “Pembukaan lahan dilakukan secara bertahap. Untuk mengatasi masalah lahan diterapkan sistem pompanisasi dan membuka saluran saluran irigasi,” kata Ade.

Terpisah, salah satu petani di Kecamatan Rupit, Wasir, mengakui ada beberapa kendala yang sering dihadapi masyarakat saat hendak menggarap lahan akibat sering kebanjiran dan kekeringan

“Muratara rata rata sawah tadah hujan, tidak seperti di Tugumulyo Musi Rawas, ada irigasi besar. Dahulu banyak yang membuka sawah, akibat sering kekeringan akhirnya ditinggalkan,” ucap Wasir (rls/tim)