Liputan Khusus Berita

Air Sebabkan Petani Sawah Beralih Fungsi Lahan

MUSIRAWAS.B-Lipuse.com – Persoalan kekeringan air menjadi salah satu penyebab terkendalanya puluhan bahkan ratusan hektar sawah di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, selalu mengalami kekeringan dan mengalih fungsikan lahan petani.

Diketahui sejak zaman pemerintahan Bupati Ridwan Mukti, hingga sekarang, Kabupaten Musi Rawas disetiap tahunnya selalu memprogramkan pembuatan atau rehap jaringan irigasi untuk kebutuhan para petani sawah.

Namun sejak Empat tahun terakhir ini, hal itu menjadi keluhan masyarakat petani terkhususnya petani padi sawah.  Selama ini Kabupaten Musi Rawas dikenal sebagai daerah sentra pertanian khususnya tanaman padi.

Beralih fungsinya para petani di Kabupaten berslogan Lan Serasan Sekantenan, yang lebih memilih menanam cabai, jagung, karet dan sawit diareal persawahan lantaran tak kebagian aliran air irigasi.

Hal itu terjadi karena ketidaktegasan Pemkab Mura terhadap pemilik kolam air deras yang kian hari kian bertambah.

“Di era Bupati Ridwan Mukti, sawah saya jadi percontohan untuk penanaman padi organik, bahkan Pak Ridwan sempat hadir saat panen raya.  Dulu irigasi lancar jadi bertanam padi sangat menghasilkan,” ujar Iskandar petani di Desa Satan Indah Jaya.

Tanpa tedeng aling-aling, Iskandar yang kala itu didampingi rekan satu profesinya Subur,  mengaku kebingungan dengan berita yang menyebutkan Kabupaten Musi Rawas surplus beras.

“Bagaimana  mau surplus beras dik, lihatlah sawah kami sudah menjadi daratan karena tidak adanya ketersediaan air. Karena itu, kami beralih menanam cabe, jagung. Bila menanam padi hasilnya jelas,.

Dengan kondisi seperti ini, kami merasa lebih bersyukur karena masih bisa  menanam semangka, cabe dan jagung. Sementara diseberang sana mereka beralih menanam karet dan sawit,” bebernya.

Sebagai masyarakat kecil, Iskandar dan Subur berharap terhadap Pemerintah Daerah untuk lebih jeli dan segera mengambil sikap.

“Bila ada pejabat yang turun, maka air kolam  dibuka dari kolam-kolam  namun begitu mereka pergi maka kembali mereka tutup. Hal itu selalu terjadi dari tahun ke tahun tidak berkesudahan. Apa lagi siempunya kolam banyak orang penting, apalah artinya kami masyarakat kecil,” selorohnya.

Untuk itu, dia berharap Bupati dan Wakil Bupati Mura terpilih nantinya, mampu memberikan solusi permasalahan air yang selalu menjadi keluhan para petani sawah dengan menjalankan program-program pro rakyat.

“Apabila masalah irigasi teratasi, untuk pencalonan berikutnya tentu akan lebih mudah. Mudah-mudahan tahun ini calon yang terpilih betul-betul pro rakyat,” harap mereka (Tim)